Sosial

Ceritaku di Jambore Sahabat Anak XXII

Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli. Sahabat Anak, salah satu yayasan yang menaungi anak โ€“ anak jalanan/marginal dalam melindungi dan memberikan akses pemenuhan hak anak mengadakan Jambore Sahabat Anak. Dalam jambore yang ke XXII ini mengangkat isu hak anak untuk mendapatkan kesetaraan melalui tema Kita Sama Kita Indonesia.

Berawal dari chat seorang teman yang menawarkan untuk jadi volunteer dengan cara mendaftar secara online. Saat itu mungkin sekitar bulan Maret saya daftar. Semoga masuk seleksi, doanya gitu aja. Kebetulan sebelumnya pernah melihat acara Sahabat Anak di Taman Mentang hanya sebagai penggembira saja. Jadi waktu itu bilang sama temen, kalau ada acara seperti ini saya pengen ikut.

Saat sudah lupa pernah daftar, pun beranggapan tak terpilih, di bulan April akhir ada email untuk pelatihan volunteer pendamping. Alhamdulillah. Ada beberapa pilihan hari untuk pelatihan. Saya memilih tanggal 19 Mei 2019. Setelah cross check sama salah satu temen komunitas gamelan, ternyata dia juga ikut. Jadilah kita janjian.

Bertemu orang baru yang beragam karakter ternyata menyenangkan sekali buat saya. Saat pertemuan itu kita berkenalan sama teman sebelah. Mengakrabkan diri dan bikin whatsapp grup, JSA Squad, untuk tahu perkembangan masing-masing. Kemudian kita dibagi dalam team. Masing-masing dari kita ternyata ga ada yang satu tempat kelompok pendampingan.

Ada yang dapat SA Gambir, SA Cijantung, SA Grogol, ada yang dapat di daerah Panglima Polim dan aku sendiri dapat SA Manggarai. Setelah itu kumpul sesuai kelompok. SA Manggarai dapat tenda Tidung, dengan penanggung jawab tenda  Kak Jessica. Diwajibkan bagi pendamping online untuk datang bertemu langsung dengan adik yang akan didampingi minimal 3x pertemuan.

Waktu yang nggak banyak memang. Untungnya SA Manggarai ada 2 hari jadwal belajarnya. Jumat malam pukul 19.00-21.00 dan hari Minggu pukul 14.30-17.00. Saya bisa dateng 5x pertemuan, termasuk persiapan menjelang hari H. Yang awalnya saya cuma dapat satu adik, akhirnya mendapatkan dua adik yang harus didampingi karena ada yang mengundurkan diri.

Sabtu, 20 Juli 2019 sebelum subuh, meluncur ke karang taruna Manggarai, posko Sahabat Anak Manggarai. Karena takut kesiangan bangun, saya nggak tidur. Hehehehehehee. Sholat bareng kakak pendamping lain di masjid terdekat. Ngecek adik-adik pendamping kelengkapannya sudah komplit apa belum. Selanjutnya pukul 05.30 berangkat ke bumi perkemahan Ragunan naik truk militer.

Sesampainya di Bumi Perkemahan Ragunan, kita nunggu kakak penanggung jawab tenda buat daftar ulang. Sambil yel-yel, sampai akhirnya kita menuju tenda Tidung. Bahagia banget dapat tenda yang dekat dengan tenda P3K, tenda konsumsi, panggung utama dan yang paling penting dekat dengan mushola dan kamar mandi. Berasa beruntung banget.

Setelah pembukaan, kita ke sesi pertama, Jika Aku Menjadi. Disini tenda Tidung pertama kali betemu dengan seorang atlit menembak yang pernah mengikuti Asian Paragames 2018. Beliau menceritakan bagaimana kerja keras, melawan rasa malu, perjuangannya hingga terpilih menjadi satu dari sepuluh atlet yang mewakili Indonesia dalam ajang olahraga tersebut. memberi motivasi kepada kami, adik-adik dan para pendamping agar selalu mempunyai harapan dan impian yan tak pernah padam. Harus terus diupayakan apa yang menjadi mimpi kita.

Selanjutnya ada games yang melibatkan seluruh adik yang dibantu kakak pendamping. Seru banget. Di games pertama ini tenda Tidung menang, dapat 5 stiker hijau. Ada 3 games lain yang kesemuanya kita dapat 5 stiker hijau, 1 games dapat 2 stiker hijau. Seneng banget lihat adik-adik bahagia dan semangat mengikuti kegiatan. Jadi saya sebagai pendamping pun ikutan semangat membara.

Keseruan di sesi pertama berlanjut ke sesi kedua. Kali ini adik-adik diminta memilih 4 profesi. Kelompok dibagi 2 kakak pendamping dan 4 adik. Adik-adik memilih profesi vlogger, barista, dokter dan chef.

Pengenalan profesi dengan ahli dibidang masing-masing memberikan pengetahuan baru bagi kami. Belajar membuat vlog, pengetahuan tentang kopi, pengenalan organ tubuh dan pengenalan bahan dasar membuat kue membuat adik-adik bahagia banget. Tanya jawab antara adik-adik dan sang ahli berlangsung menyenangkan.

Sore harinya kira menghias tenda rame-rame. Ada yang membantu bikin tulisan, bikin bunga, potong-potong kertas buat hiasan. Kalau saya kebagian bikin pager sama gapura. Sambil curhat sesama kakak pendamping. Sambil kasih tau adik yang membantu, bagaimana menyimpul tali biar nggak lepas/cepet kendor. Disini kita lebih mengenal. Kerjasama yang dipenuhi canda tawa. Seneng deh pokoknya. Hati rasanya plong. Soalnya diawal kita nggak pada kenal satu sama lain.

Pas waktu makan, siang ataupun malam, kita ngariyung dibelakang tenda, dibawah pohon mangga. Bahagia banget. Makan rame-rame, sambil cerita kegiatan seharian ini begitu menyenangkan. Tak lupa kami saling mengingatkan waktu sholat, siapa yang gantian mandi.

Dua adik yang kudampingi kebetulan beda karakter. Yang satu sangan lincah, yang satu lagi pendiam. Beda usia. Yang besar sudah SMP, yang kecil masih SD. Memang harus berbeda cara memperlakukan dan mengambil hati mereka. Kita baru bertemu 2x, dan disinilah kesempatan untuk memahami mereka. Terima kasih banyak sayang, kalian telah banyak membantuku belajar. Kesempatan yang entah kapan lagi bisa kutemukan.

Untuk hari ke 2, saya akan cerita di tulisan berikutnya yah. Makasih

Blog Competition

Ikut Pelatihan Blog, Buat Apa?

Acara yang bertemakan GO-BLOG, CERDAS & NGEBUT ala Blogger Zaman Now menghadirkan tiga narasumber yang kompeten dibidangnya masing-masing. Pelatihan blog Kubbu ini dibagi menjadi tiga termin, seminggu sekali. KUBBU, Klub Blogger dan Buku bekerja sama dengan perpusda menyelanggarakan acara pelatihan blog untuk pemula yang bertempat di perpusda Taman Ismail Marzuki. Adapun pembicara dalam pelatihan ini antara lain:

Febriyan Lukito
Merupakan Blogger Indonesia dan SEO Enthusiast. Bersama mas Ryan, kita diajari membuat blog dari nol sampai wow. Kebagian minggu pertama, 14 Juli 2019, saya bisa bilang mas Ryan ini sabar sekali orangnya. Berkali saya tanya, juga dibantu oleh teman-teman yang sudah senior dalam per-blogger-an. Sebagai pemula, saya sedikit bingung, namun juga seneng. Oh, begini to caranya membuat blog. Susah memang awalnya, tapi menyenangkan dan saya menikmati. Menggunakan platform WordPress, mas Ryan mengajari kita bagaimana awal membuat blog, mengatur blog, termasuk memilih tema tampilan. Sehingga nantinya blog siap kita isi dengan sesuatu yang menjadi passion kita. Di pertemuan pertama ini, kita diberi tugas membuat dua draft tulisan yang harus dikumpulkan sebelum pertemuan kedua berlangsung.

Iman Ridhwan Syah
Mas Iman ini Fulltime Blogger dan Founder Bacalagers Media. Berbagi ilmu pada minggu kedua, 21 Juli 2019. Kebetulan sewaktu mas Iman sharing, saya pas tidak bisa hadir. Padahal sharingnya keren banget. Mas Iman membahas tentang bagaimana mengoptimalkan blog dengan menggunakan SEO. Teknik dasarnya seperti apa. Bagaimana pemakain backlink dan keyword dalam sebuah artikel.
Walaupun saya sudah tanya sama mas Iman langsung by phone tentang SEO, backlink, keyword itu seperti apa, namun masih belum ngerti juga. Mungkin karena saya type yang bisa kalau langsung praktek. Nggak bisa hanya teori saja. Next, pengen diculik sama Mas Iman deh biar diajarin lebih detail.

Pada pertemuan kedua, ada tugas untuk membuat draft yang dari tugas pertama menjadi artikel yang sudah dimasukkan ke blog yang kita punya. Kemudian ada Blog Competition, dimana kita harus menerapkan ilmu SEO yang telah dipelajari.

Shintaries Nijerinda
Menjadi wanita tercantik diantara narasumber, mbak Shinta akan membagikan ilmu bagaimana mendapatkan penghasilan tambahan dari ngeblog. Pembicara terakhir di minggu ketiga, 28 Juni 2019, apa yang akan disampaikan mbak Shinta pasti sangat ditunggu oleh peserta.

Dalam tulisan saya kali ini, saya ingin membagikan mengapa saya mau belajar membuat blog.
Istilah blog dan blogger sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi saya. Banyak sahabat yang sudah berkecimpung didalamnya. Bahkan ada yang sudah menjadi seorang blogger hebat. Pernah saat itu ikut mendengarkan seminarnya. Cuma duduk manis dan ga tahu apa yang dibahas. Nggak ngerti sama sekali. Banyak istilah yang awam buat saya. Tapi tetap saya mendengarkan sampai selesai.

Kemudian saya ikut juga acara optimalisasi blog wordpress. Inipun aku nggak mudeng yang dibicarakan sama pembicaranya apa. Untung pembicaranya baik. Ndak marah didepanku saat saya bilang kalau benar-benar ga tau apa yang dibahas.
Dari sinilah, saya berusaha belajar lagi. Pengen memulai dari awal blog belum ada sampai sudah jadi. Bagaimana caranya, kiatnya, bisa jadi blog yang oke dan menghasilkan. Walau memang saya agak kelabakan. Mengikuti step demi step cara awal bikin blog, ngoprek-ngopreknya. Ternyata menyenangkan meskipun saya tegang. Setidaknya saya tahu mengapa harus ngeblog.

Mengungkapkan dan Berbagi Rasa

Terkadang ada hal yang nggak bisa kita lampiaskan atau ceritakan ke orang lain. Nah, melalui blog, setidaknya saya bisa menumpahkan curahan hati. Entah itu tentang diri saya sendiri ataupun tentang orang lain yang ceritanya boleh saya publikasikan. Biasanya saya sering menulis puisi pendek atau sekedar kalimat yang saya dapat dengan begitu saja. Bisa saat sedang jalan, melihat bunga, atau bahkan saat sedang melamun didalam bus trans Jakarta. Kalimat demi kalimat ini, boleh jadi bisa dirangkai menjadi cerita di blog, semoga.

Mengamalkan HR Muslim No. 1631

Dimana disebutkan, โ€œJika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholehโ€. Paling tidak, saya dimampukan untuk bisa menulis dengan konsisten dan tulisan saya mampu memberi manfaat orang-orang yang membacanya. Meninggalkan jejak kebaikan untuk anak cucu kita nantinya.

Mengabadikan Moment

Setiap kita pasti memiliki pengalaman indah tentang sebuah perjalanan, cerita film, resensi buku, menikmati sebuah festival tahunan, kebersamaan dengan keluarga & sahabat atau apa saja yang membuat kita bahagia. Dan kita ingin orang lain ikut merasakan apa yang kita rasa. Mungkin akan berguna bagi sahabat yang kebetulan sedang membaca blog kita. Sesuatu yang kita bagikan dalam moment tertentu juga akan membantu kita mengingat nantinya di masa mendatang. Bisa throwback seperti apa kita dahulunya. Membayangkan saja sudah menyenangkan yah. ๐Ÿ˜Š

Mendapatkan Penghasilan Tambahan

Ini pastinya saya belum merasakan. Tapi setidaknya rencana untuk menjadi seorang blogger yang mampu mendapatkan penghasilan tambahan sudah mendekam dalam pikiran. Melihat orang-orang yang sukses menjadi blogger pasti ngiler. Memang tidak instan. Pasti butuh kerja keras dan cerdas untuk bisa mencapainya. Bismillah saja, semoga Allah mampukan. Aamiin.

So, buat kamu yang masih bingung mau nulis apa? Caranya nulis bagaimana? Tahun depan ikutan deh setiap Kubbu mengadakan acara pelatihan blog. Nggak bakalan nyesel pokoknya. Senengnya pasti, mumetnya diawal dapet. Dan tentu saja, step awal menjadi Blogger Wow Masa Depan sudah terwujud.

Makasih para suhu blogger, mas Ryan, mas Iman dan mbak Shinta sudah berbagi dengan penuh kasih.
Makasih segenap panitia telah mempersembahkan dan menyiapkan acara pelatihan blog untuk pemula dengan luar biasa apik.
Semoga besarnya manfaat bisa kita rasakan bersama. Aamiin.

Book

SERIAL LITTLE HOUSE : 5 GADIS PIONER

Ada yang pernah nonton film Little House on the Prairie? Itu lho film yang ditayangin di TVRI era tahun 90-an. Atau mungkin ada yang pernah baca buku klasik yang seriannya tiap generasi pioner banyak?

Namun sayangnya buku klasik ini sudah banyak yang tidak lengkap. Kali ini saya mau sedikit bercerita tentang silsilah ke lima gadis pioner beserta judul buku yang memuat kisah mereka.

Film Little House of the Prairie mengambil cerita dari salah satu dari gadis pioner, Laura Ingalls Wilder. Dia adalah generasi keempat dari lima gadis pioner.

Lima Generasi Gadis Pioner

1. Martha Morse

Keluarganya berasal dari Scotlandia, namun dia merupakan gadis tangguh yang ingin melihat dunia luar. Akhirnya membulatkan tekat untuk memulai kehidupan baru di Amerika. Martha lahir sekitar tahun 1782. Martha merupakan nenek buyut Laura.

Untuk membaca kisahnya, silahkan menemukan lewat buku :

1. Rumah kecil di Dataran Tinggi

2. Jauh di Seberang Danau

 2.  Charlotte Tucker

Charlotte adalah neneknya Laura. Salah satu anak perempuanya Martha. Setelah menetap di Boston bersama keluarga besarnya, Charlotte dewasa menghendaki berkelana ke wilayah barat. Kemudian menetap di daerah Wisconsin. Charlotte lahir tahun 1809.

Kisahnya ada 2 buku juga, yaitu:

1. Rumah Kecil di Teluk Boston

2. Di Daerah Tide Mill lane

 3. Caroline Quiner

Caroline lahir tahun 1839. Anak ke 5 dari 7 bersaudara. Dari kecil sudah terbiasa membantu mamanya, Charlotte, bekerja di lahan pertanian. Dialah Ma, panggilan Laura padanya. Menikah dengan Charles Phillip Ingalls. Mempunyai 5 anak.

Seri Caroline, judul bukunya :

1. Rumah Kecil di Brookfield

2. Kota Kecil di Persimpangan

3. Rumah Kecil di Hutan

4. Di Puncak Bukit Concord

4. Laura Ingalls Wilder

Dialah anak kecil yang diceritakan di film Little House of the Prairie. Yang bersama Pa dan Ma melakukan perjalanan dengan kereta tertutup terpal dari Wisconsin, Kansas, sampai akhirnya menetap di Dakota. Laura lahir tahun 1867.

Laura lah yang berinisiatif untuk menuliskan kisah masa kecilnya dalam bentuk buku.

Judul buku klasik seri Laura :

1. Rumah Kecil di Rimba Besar

2. Rumah Kecil di Padang rumput

3. Anak Tani

4. Di Tepi Sungai Plum

5. Di Pantai Danau Perak

6. Musim Dingin yang Panjang

7. Kota Kecil di Padang Rumput

8. Tahun-tahun Bahagia

9. Empat Tahun Pertama

10. Dalam Perjalanan Pulang

11. Surat Dari Jauh

5. Rose Wilder

Kisah masa kecil ibunya dalam keluarga pioner membuatnya ingin menjadi pioner dalam bidang lain. Lahir tahun 1886, anak perempuan Laura. Ingin melihat dunia luat membuatnya pindah dari Dakota ke Missouri.

Kisahnya dapat dibaca melalui buku :

1. Rumah Kecil di Lereng Bukit

2. Tanah Pertanian Kecil di Lereng Bukit

3. Negeri Apel Merah Besar

4. Menjelajah ke Seberang Bukit

5. Kota Kecil di Lereng Bukit

6. Fajar Baru di Lereng Bukit

7. Di Tepi Sungai kecil

Sejak pertama kali lihat filmnya, aku sudah jatuh cinta. Kemudian tahun 2012 pas main ke rumah temen ternyata punya beberapa seri bukunya. Langsung kalap baca pastinya sih.

Aku suka banget serial Little House ini soalnya jadi bisa membayangkan Amerika jaman dulu seperti apa. Masih banyak hutan lebat. Harus membuka ladang/hutan kalau ingin membuat rumah buat keluarga. Mengandalkan hasil pertanian dan berburu. Bikin minyak/sabun dari lemak binatang.

Keju diolah dari susu sapi murni dengan cara tradisional. Harus mengawetkan hasil pertanian untuk persiapan musim dingin. Ada yang namanya hari mencuci, dimana hari itu baju dicuci dan harus nunggu sampai baju kering baru bisa ganti baju bersih.

Duh, membacanya berasa ikut hanyut merasakan kenikmatan di era itu. Nanti di lain kesempatan, nanti aku bahas salah satu buku klasik ini yah.

Budaya

FESTIVAL BEDHAYAN 2019

Aku bahagia banget waktu di grup ada yang kasih tiket buat nonton Festival Bedhayan 2019. Secara aku belum pernah lihat acara yang dari awal sampai akhir berupa tarian. Apalagi ini kesemuannya nari bedhayan.

Acara hari Sabtu, 22 Juni 2019 pukul 15.00. Datang ke GKJ, tak langsung masuk. Gegayaan dulu cekrak cekrek di spot foto yang disediakan.

Ketemu beberapa penari yang sedang persiapan. Aku dan temenku dapat bangku di balkon atas. Disana ternyata banyak reporter yang meliput dari berbagai media.

Festival Bedhayan ini diselenggarakan oleh Laskar Indonesia Pusaka dan Yayasan Swargaloka, yang didukung oleh Dirjen Kebudayaan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Acara dibuka oleh bapak Jaya Suprana selaku pendiri dari LSI dan bapak Hilman Farid dari Dirjen Kebudayaan, dengan membunyikan alat musik pukul Kemanak.

Pembukaan dengan memukul Kemanak

Oh iya, tari Bedhaya ini merupakan tarian sakral keraton Surakarta. Disajikan dalam bentuk festival bertujuan untuk melestarikan seni warisan budaya dan mengenalkan ragam tari bedhayan kepada lintas generasi. Sehingga tak ada kata cukup dan terlambat dalam belajar.

Tari Bedhaya ini mengambil tema dan cerita yang beragam. Setiap pencipta memberikan kreasinya tersendiri. Biasanya didalamnya mengandung pesan moral dan nilai-nilai luhur untuk menjalani kehidupan.

Festival yang sudah dua kali diselenggarakan ini diikuti oleh 14 peserta. Terbagi menjadi dua kategori, pelestari tarian klasik dan pengembangan kreasi baru. Semua penampil diamati oleh pakar seni tari Bedhaya.

Dalam penampilannya, ada yang menggunakan live gamelan ada yang nggak. Namun semuanya sangat layak untuk diberikan apresiasi setinggi-tingginya. Merekalah Duta Budaya Bangsa.


Berikut para peserta Festival Bedhayan 2019

1. Swargaloka School of Dance

Menampilkan Bedhayan Gula Kelapa/Merah Putih. Menceritakan semangat juang prajurit wanita dalam membela bangsa. Wanita harus mampu menopang tegaknya bangsa dan mendorong masyarakat menuju kebaikan.

2. Jaya Suprana Schol of Performing Art

Mempersembahkan tari Bedhayan Ura-Ura/tembang/senandung. Tari ini menggambarkan perasaan bahagia setelah berhasil memerangi hawa nafsu yang bersemayam dalam diri.

3. Smile Motivator

Ini satu-satunya tari yang bikin saya meneteskan air mata dan sesak napas. Soalnya semua penarinya adalah sahabat kita yang berkebutuhan khusus. Mereka semua tuna rungu. Mereka menari lewat iringan tangan, melalui bahasa isyarat.

Ada seorang pemandu gerak di depan para penari yang mengarahkan tarian. Gemulainya tarian ini untuk menyambut para bangsawan yang datang. Indah.

4. Arkayama Sukma

Pencarian jatidiri oleh Brotoseno (tokoh pewayangan) menjadi jiwa dari tari ini. Tari yang digubah oleh Agus Tasman dan diitingi gending Elo-Elo karya R.L Marto Pangrawit ini memiliki unsur yang gagah, agung, suci, khitmat dan prihatin.

5. Puspo Budaya

Bedhoyo Puspa Nuswantoro menjadi menarik karena menampilkan keindahan, harmonisasi dan keragaman budaya. Peradaban dari tanah Pasundan, Swarnadipa, Celebes, Borneo dan berbagai kebudayaan lain di nusantara lebur dalam ide kreasinya Lies Luluk Sumiarso

6. Omah Wulangreh

Jika mau menikmati Jogja di tengah kebisingan J-town, datanglah kesini. Kaget juga ternyata salah satu basecamp kita duduk manis mengikuti ajang festival ini. Para penari menampilkan Bedhaya Wulangreh yang mencerminkan ajaran leluhur untuk menuju kesempurnaan hidup. Simbol hubungan manusia dan penciptaNya yang harmonis.

7. Panji Wiratama

Menampilkan Bedhaya Kirana Ratih yang menggambarkan prajurit keraton yang sedang berlatih ketangkasan memanah.

8. Ari Suta Center

Merupakan kidung perkawinan, mantra penyatuan rasa untuk kebahagiaan kehidupan perkawinan. Dimana dalam Bedhayan Ajanggayung ini, setiap pasangan harus mampu menghormati dan menghargai satu sama lain serta berbagi suka duka. Menikmati tarian ini jadi pengen segera dihalalkan ๐Ÿ˜Š

9. Sanggar Gendhing Enem II

Bedhaya Pangkur ditampilkan oleh sanggar ini. Menggambarkan tentang keseimbangan hawa nafsu dan akal manusia. Tentang pengendalian diri. Tarian karya agung Sri Susuhunan Pakubuwono IV ini diiiringi oleh gendhing Pangkur.

10. Sanggar Sampan Bujana Sentra

Kreasi Bedhayan Sekar mempunyai filosofi luhur Bedhaya yang halus, luhur adiluhung, indah dan sakral. Sekar yang berari bunga berperan sebagai hiasan untuk menambah kecantikan dan keindahan para penarinya.

11. GAIA indonesia Culture Society

Keragaman budaya pulau Celebes, khususnya di Sulawesi Selatan diangkat dalam Tari Empat Etnis. Mengangkat adat istiaat dan budaya dari Makasar, Bugis, Mandar dan Toraja setra menampilkan empat kostum dari daerah masing-masing. Ini keren, ada pertunjukan pakai bola takraw. Aku sampai ternganga.

12. Sanggar Gending Enem I

Kebudayaan dari 4 keraton digabungkan untuk menggambarkan jiwa persatuan. Gaya tari dan iringan gedhing dari Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Puro Mangkunegaran dan Puro Pakualaman menjadi satu tarian yang dinamis dan apik.

13. Nur Sekar Kinanti

Membawakan tarian Bedhaya Durodasih ciptaan Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Tarian ini diciptakan untuk mengingat saat beliau jatuh hati pada RA Handaya, putri dari Madura. Tarian inilah yang iringannya memakai alat musik kemanak yang berbentuk pisang dan menghasilkan suara yang seperti burung merak.

14. Sanggar Shanti Budaya HAYUWERDHI

Penampil terakhir ini mengambil unsur budaya Bali. Dengan iringan gamelan khas Bali, tarian Bedhaya Saptongkara ini apik digarap dengan pola tari Bali. Tema ini diangkat dari konsep Hindu tentang eksistensi manusia sebagai partikel terkecil dari Dewa yang disimbolkan dalam tujuh aksara/suara sakti.

Dewa tersebut antara lain Ang (Brahma), Ung (Wisnu), Mang (Iswara), Ongkara (Mahadewa), Ardhachandra (Rudha), Windhu (Sadhasiwa) dan Nadha (Paramasiwa). Penataan tari yang digarap sangat elok oleh Dr. I Nyoman Chaya, S.Kar., M.S ini mampu membius penonton menikmati suguhan yang menawan.

Enam jam menikmati acara ini nggak berasa sama sekali. Keindahan dan keagungan budaya dalam balutan tari ini benar-benar memikat. Yuk mari bersama-sama menjaga adiluhung budaya nusantara. Keberagaman merupakan pemersatu bangsa. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?

Budaya, Traveling

HOTEL MAJAPAHIT, CAGAR BUDAYA INDONESIA

Masih pada ingatkah peristiwa penyobekan bendera Belanda oleh arek-arek Suroboyo? Yang saat itu seorang pemuda naik ke atas gedung hotel dan merobek bendera tiga warnanya Belanda hingga tinggal dwi warna, merah putih. Insiden tersebut terjadi pada tanggal 19 September 1945 di Hotel Yamato/Oranje. Saat ini saya tidak akan menceritakan bagaimana bisa terjadi insiden tersebut. Nanti bisa dibuka kembali catatan sejarahnya seperti apa. Saya akan berbagi pengalaman seperti apa hotel ini sekarang.

Saya mbolang bersama seorang sahabat, sebut saja namanya mbak Nunik. Kita berdua memang sudah menargetkan mengunjungi Hotel Majapahit, nama Hotel Yamato saat ini. Namun apadaya, yang harusnya setelah makan siang kita kesana, badan rasanya pegel banget setelah sebelumnya long march dari jembatan merah โ€“ kantor gubernur. Kita balik hotel. Bener-bener bobok siang dan baru bangun menjelang magrib. Di Surabaya magribnya lebih sore, 17.22 saat itu udah magrib. Kita baru bangun jam 5 sore. Nggak niat banget jalan yah. Tapi memang kita tuh sak madyo saja kok di Surabaya ini. Nggak harus kesini kesitu. Ternyata malah banyak keberuntungan yang kita dapet.

Jadi, bangun tidur kita ngobrol, ke Hotel Majapahit foto-foto disana. Trus sempet cek kalau ke Suramadu berapa ongkos kesana. Eh, ada yang nawarin nganter. Kan kita bahagia. Abis isya kita pergi ke Suramadu, pulangnya mampir Tugu pahlawan yang udah ga bisa masuk karena lewat jam 8 malam. Tetep mampir buat ambil gambar. Lanjut makan malam di deket jalan Tunjungan. Kemudian jalan kaki ke Hotel majapahit. Tidak lupa sepanjang jalan Tunjungan juga cekrak cekrek. Dasar kita emang gitu.

Sampai di depan Hotel Majapahit, kita foto mulai dari kepingan plakat di sudut depan sebelah kanan hotel, bendera merah putih diatas gedung, tulisan di dinding hotel tentang peristiwa 19 September 1945, dll. Saat mbak Nunik asyik foto, saya kan orangnya penasaran gitu, nekatlah masuk ke dalam hotel. Tanya sama petugas. Boleh nggak kita foto atau kalau nggak boleh foto setidaknya diijinkan melihat ke dalam hotel yang menurut kami sangat bersejarah ini. Eh, para pegawai hotelnya welcome banget. Diperbolehkan foto, boleh masuk ke dalam, asal tidak berisik. Karena jam sudah menunjukkan pukul 23.15, tamu hotel sudah pada istirahat.

Saya keluar menghampiri mbak Nunik dan kami masuk. Hotel ini cantik. Semua masih dipertahankan keasliannya. Memasuki lobi, kita akan melihat deretan kursi cantik yang elegan. Setiap meja ada pot berisi tanaman hidup. Vasnya sendiri seragam berbentuk gajah berwarna putih. Sebelah kiri saat kita masuk ada tanda peresmian yang ditandatangani oleh pihak berwenang saat itu, Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, Joop Ave dan Gubernur Jawa Timur, Basofi Sudirman. Sebelah kanan terdapat mobil antik, ford keluaraan tahun 1930. Lampu kristal dan ornamennya juga ciamik. Ada lukisan beberapa pemuda berdiri di atap hotel dengan sebuah bendera merah putih yang berkibar.

Sesaat kita ngobrol sama resepsionis yang sedang bertugas saat itu. Petugasnya helpfull banget. Malah diceritain kalau hotel ini sempat beberapa kali berganti nama. Pertama kali namanya Hotel Oranje di tahun 1910. Setelah diambil alih jepang berganti jadi Hotel Yamato di tahun 1942. Tahun 1945 berubah jadi Hotel Merdeka. Ini dikarenakaan peristiwa 19 September 1945. Sarkies bersaudara yang mengelola hotel tersebut mengganti nama manjadi Hotel L.M.S setahun kemudian, tahun 1946. Mengapa L.M.S? karena merupakan singkatan dari Lucas Martien Sarkies, pendiri Hotel Oranje. Tahun 1969, berubah jadi Hotel Majapahit saat kepemilikan oleh Mantrush Holding Co. Tahun 1996 dibawah bendera Mandarin, menjadi Mandarin Oriental Hotel Majapahit. Baru tahun 2006 dikembalikan lagi namanya menjadi Hotel Majapahit sampai dengan sekarang oleh CCM group.

Ternyata, disini ada wisata sejarah hotel. Diadakan setiap hari, 2x, jam 2 siang dan jam 4 sore. Bayarnya 80 ribu/orang. Dan biasanya yang mengikuti hotel tour ini adalah wisatawan dari luar negeri yang tertarik dengan sejarah. Untuk orang Indonesia sendiri, khususnya Surabaya, jarang yang tertarik. Mereka lebih banyak yang hanya foto diluar saja. Saya bilang sama mamasnya, mungkin belum banyak yang tau kalau hotel inipun menawarkan wisata sejarah hotel. Maklum kan, ini termasuk hotel mewah yang kadang orang awam seperti saya juga mau ngapain kesini, boleh nggak ya masuk. Hawong saya tadi juga nekat karena penasaran. Dan mamasnya cuma senyum. Duh, nyesel kali kita tadi siang pulang bobok di hotel. Padahal besok pagi kita sudah balik dari Surabaya. Mamas resepsionisnya bilang, kita bisa melihat replika bendera yang dirobek, bisa lihat kursi yang ada tulisannya HO, trus bisa naik ke atap hotel. Kaaan… jadi tambah pengen perpanjang stay di Surabaya.

Kamar hotel no 33 adalah bagian sejarah dari hotel ini. Mengapa? Sebab kamar ini pernah dijadikan pusat komando tentara Belanda saat terjadi insiden perobekan bendera Belanda. Kamar inipun dikenal dengan nama Kamar Merdeka. Eh iya, disini ada juga kamar yang luasnya 800 m2. Tarifnya kata mamas resepsionianya sekitar 3.500an dolar AS. Ada yang sewa, mas? Kita kompak nanya. Katanya ada. Salah satunya, Charlie Chaplin pernah singgah kesini.

Info dari mamas resepsionis, setiap tanggal 19 Septembar ada penurunan dan penaikan bendera merah putih di hotel ini. Biasanya dilakukan oleh walikota Surabaya saat ini, Ibu Risma. Hal tersebut untuk mengingat perjuangan rakyat Surabaya dalam kemerdekaan Indonesia. Oleh sebab itu salah satu hotel tertua ini termasuk Cagar Budaya Peringkat Nasional, bukan hanya karena bangunannya yang unik namun juga karena peristiwa bersejarah yang mewarnai hotel ini. Saya jadi ikutan bangga.

Kita ke belakang sebentar, tapi ndak berani masuk sampe dalem. Pilar putih dengan lampu-lampu cantik yang menghubungkan lobi dengan bangunan di belakangnya menyambut kita. Seolah menawarkan diri untuk didatangi. Taman di malam hari dengan sayupan suara angin. Serta bangunan artistik gaya kolonial ini benar-benar membius. Dalam hati, suatu saat aku mau nginap disini. Biar puas menikmati eksotiknya hotel ini. Kapan? Entahlah. Namanya juga mbatin. Semoga saja diijabah. Aamiin.

Setelah foto-foto sebentar, di taman yang menghadap kamar, mbak Nunik tiba-tiba nongol dari bangunan sebelah, trus nggandeng tangan ngajakin pulang. Katanya ngeri juga rasanya suasana sepi, udah jam 12 malam pula. Merinding disko. Walaupun masih sangat penasaran sama hotel ini, namun memang kita harus balik. Takut besok nggak kebangun, soalnya kereta ke Cepu jam 6 pagi. Kemudian pamit sama petugas hotel, berterima kasih sudah diijinkan masuk meskipun udah tengah malam. Tak lupa aku mbatin lagi, aku akan balik kesini. Sampai jumpa di lain waktu, Hotel Majapahit-ku.

Hotel Majapahit, Cagar Budaya Indonesia
Mobil Ford Keluaran 1930
Pilar penghubung lobi dan bangunan di belakangnya
Lukisan
Salah satu sudut lobi
Kamar-kamar hotel
Gedung yang terhubung dengan lobi
Oranje Hotel Soerabaja, sebelum renovasi.
Di kursi sebelah kiri ini saya duduk sejenak dan mbatin suatu saat saya bermalam disini
Ini mbak Nunik, di replika jembatan Suramadu
Ini saya di jalan penghubung lobi dan gedung belakangnya
REVIEW

Akan Tiba Waktumu Untuku

Akan tiba waktu,
Dimana saat #kamu pulang,
Aku adalah tujuanmu
Akan tiba waktu
Dimana saat #kamu bimbang
Aku jadi sahabat setiamu
Bercerita, berbagi
Dalam rinai hujan dan teriknya mentari siang
Meniti angin, meniup badai
Bermandi bunga, bertabur intan
Menjalani proses bertumbuh,
Menguncup, berkembang, menggelopak kemudian

Bersamamu
Menua seiring sejalan

๐Ÿ’™๐Ÿ’š

๊ง๊ฆฒ๊ฆ ๊ฆ๊ง‚

REVIEW

KASIH

Sebatas mana kita mampu melihatnya?
Sebatas jarak pandang kita, yang seolah tak berbatas
Sebatas “rasa” yang kita kecap untuk menikmatinya
.
Laut dan langit adalah kita
Berbeda dengan tujuan yang sama
.
Bukankah kita bisa melihatnya menyatu?
Dipertemukan untuk saling berbagi
Saling memahami
Saling menguatkan
.
Menyelami hati
Mengepakkan sayap harapan
Melambungkan cita dan cinta yang mulia
.
Bukankah langit dan laut sama-sama bisa menikmati hangatnya mentari?
Bukankah laut yang menguap dikembalikan lagi oleh langit melalui hujan?
Bukankah itu hubungan yang mesra?
.
Lantas,
Mengapa harus resah
Ketika perbedaan itu indah
Mengapa harus gundah
Ketika semua usaha menyertakan Lillah